Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2022

KALASEY DUA DAN AGRARIA

Gambar
  Sumber: Solipetra Oleh: Fahmi Karim Masalah agraria, sepanjang jaman, pada hakikatnya adalah masalah politik dan kemanusiaan - Gunawan Wiradi   Dalam Catatan Akhir Tahun Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) 2021, tercatat terjadi letusan konflik agraria sebanyak 207 kasus di 517 desa/kota yang berdampak pada 198.000 kepala keluarga. Luas konflik sebesar ½ juta hektar, atau 500.052 hektar. Dari kasus ini, sektor infrastruktur mengalami kenaikan konflik sebanyak 73 % dan sektor pertambangan 167 %. Selama dua tahun pandemi (2020-2021), ada 448 kasus konflik agraria di 902 desa/kota. Jika di rata-rata dalam setiap bulan terjadi 18 letusan konflik. Itu baru contoh gambaran umum konflik agraria. Kita belum mendengar secara spesifik bagaimana petani-petani mengalami situasi itu, bagaimana mereka terusir, bagaimana mereka melawan, juga bagaiman pemerintah/korporasi terus berusaha menekan perlawanan rakyat; unsur dramatis dari usaha-usaha mempertahankan tanah. Jika kita bicara ...

KALASEY DUA DAN PARIWISATA

Gambar
  Posko Solidaritas Petani Penggarap Kalasey Dua Oleh: Fahmi Karim Dalam setiap konflik tanah, misalnya perampasan tanah ( land-grabbing ) , selalu saja sengketa kepentingan berserakan. Jadi, membaca peta motif di balik sengketa tanah (rakyat vs pemerintah/investor) adalah penting agar kita mendapatkan pemahaman kenapa selama ini pemerintah/investor selalu ngotot akan tanah-tanah yang dikelola oleh rakyat. Konflik tanah tidak hanya soal historisitas; antara siapa yang sah memiliki atau siapa yang tidak sah memiliki. Tidak hanya itu! Apalagi di negara yang seperti Negara Lobby , semuanya bisa ditawar oleh yang punya uang dan yang punya akses ke kekuasaan. Jadi, sejarah juga bisa tidak objektif, apalagi berkaitan dengan proyek bisnis. Misalnya konflik tanah Kalasey Dua, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut). Konflik itu tidak hanya melibatkan sejarah tanah – sekali lagi, sejarah bisa dimiringkan oleh siapa yang punya akses ke kekuasaan. Konflik tanah di Kalasey Dua pertama dan paling...

DUNIA SEDANG DI AMBANG BATAS

Gambar
  Sumber: Pinterest Kita sedang menghadapi krisis ekologi. Seluruh dunia sedang mengarahkan pandangannya ke lingkungan dan masa depan bumi. Seluruh paket kebijakan politik dan ekonomi harus ikut menggendong agenda “hijau”.  Tidak hanya konfigurasi politik dan ekonomi, lifestyle kita harus selaras dengan agenda “hijau”: paket hidup secukupnya, belanja sesuai kebutuhan, lari dari polusi dan penyakit, serta upaya pengurangan sampah plastik. Isu perubahan iklim bukan t rend zaman yang dibuat-buat, bukan suatu wacana politik yang sengaja diada-adakan karena kehabisan pembahasan. P erubahan iklim adalah nyata yang kita hadapi sehari-hari. Mulai dari curah hujan yang bertambah, musim yang berubah, serta penyakit baru yang tumbuh seperti jamur di musim hujan. Diperkirakan, oleh para pakar peneliti, ke depan jika masih begini terus pola hidup dunia kita, beberapa pulau kecil akan tenggelam oleh air laut, rumah-rumah di pinggir pantai akan tenggelam (dan mungkin rumah Anda), banj...