DUNIA SEDANG DI AMBANG BATAS
![]() |
| Sumber: Pinterest |
Kita sedang menghadapi krisis ekologi. Seluruh dunia sedang mengarahkan pandangannya ke lingkungan dan masa depan bumi. Seluruh paket kebijakan politik dan ekonomi harus ikut menggendong agenda “hijau”. Tidak hanya konfigurasi politik dan ekonomi, lifestyle kita harus selaras dengan agenda “hijau”: paket hidup secukupnya, belanja sesuai kebutuhan, lari dari polusi dan penyakit, serta upaya pengurangan sampah plastik.
Isu perubahan iklim bukan trend zaman yang dibuat-buat, bukan suatu wacana politik yang
sengaja diada-adakan karena kehabisan pembahasan. Perubahan iklim adalah nyata yang kita hadapi sehari-hari. Mulai dari
curah hujan yang bertambah, musim yang berubah, serta penyakit baru yang tumbuh
seperti jamur di musim hujan.
Diperkirakan, oleh para pakar peneliti, ke depan jika masih
begini terus pola hidup dunia kita, beberapa pulau kecil akan tenggelam oleh
air laut, rumah-rumah di pinggir pantai akan tenggelam (dan mungkin rumah Anda),
banjir yang parah, atau kualitas udara kita yang semakin kotor sehingga kita dibuat
sesak dada dan tubuh mudah diserang penyakit. Siklus mata rantai organisme terganggu yang berdampak pada rantai
kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Jadi, perubahan iklim adalah gambaran kehidupan nyata
sekarang yang tidak bisa Anda tolak. Ini berkaitan dengan masa depan semua
makhluk di bumi, termasuk usia bumi itu sendiri: climate justice for all!
Pada tanggal 31 Oktober sampai 12 November 2021 diadakan UN Climate Change Conference of the Parties
(COP26) di Glasgow, Skotlandia. Ini adalah Konferensi Perubahan Iklim
Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-26. Konferensi yang dibuat ini sebagai upaya
untuk mendorong negara-negara yang terkait membuat paket kebijakan yang
memitigasi perubahan iklim; semisal menetapkan batas produksi emisi rumah kaca
atau stabilisasi.
Dalam konferensi tersebut, darurat iklim yang berkaitan
dengan peningkatan suhu bumi menjadi pembahasan inti. Beberapa peneliti memperkirakan suhu global akan naik sampai 2 derajat Celsius pada abad ini. Kenaikan suhu ini jika tidak dimitigasi melalui ikatan hukum akan berdampak buruk.
Meskipun di tahun 2015 telah
dilakukan Perjanjian Paris (Paris
Agreement) yang niatnya betul-betul fokus untuk memitigasi perubahan iklim dengan
cara memberikan ambang batas emisi gas rumah kaca untuk mencapai emisi net zero, namun mitigasi perlu terus diupayakan
dari segala sudut. Dan memang yang bisa merapikan situasi hanyalah paket kebijakan yang ketat.
Sebelum COP26 diadakan, Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC),
sebuah badan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus persoalan
sains dan hubungannya dengan perubahan iklim, merilis laporan tentang dampak
perubahan iklim kepada manusia, termasuk analisis mengenai suhu bumi yang akan
naik.
Mengutif IPCC dalam situsnya yang berjudul Climate Change Widespread, Rapid, and
Intensifying, pemanasan akan lebih cepat, bahkan akan bisa melewati 1,5 derajat
Celsius jika tidak ada pembatasan
gas rumah kaca. Dalam laporan yang dirilis, beberapa dekade ke depan perubahan
iklim akan meningkat di semua wilayah. Untuk pemanasan global 1.5 derajat
Celsius, akan terjadi gelombang panas, musim hangat yang lebih panjang dan
musim dingin yang lebih pendek.
Perubahan iklim juga akan berdampak pada curah hujan yang
lebih tinggi dan kekeringan yang lebih intens di daerah lain. Kemudian, daerah
pesisir akan mengalami kenaikan permukaan laut sepanjang abad ke-21. Ada
perubahan pada lautan yang akan berdampak pada kualitas oksigen yang
berpengaruh pada manusia dan ekosistem laut.
Dalam beberapa wawancara Yuval Noah
Harari (silahkan Anda cari saja di Youtube), baginya, di abad ini topik yang
tidak boleh kita lewatkan, dan mengancam, adalah perang nuklir, perubahan iklim dan distrupsi teknologi – kali ini saya hanya punya kesempatan membahas
topik kedua.
Melanjutkan hidup seperti
biasanya adalah jalan menuju bencana
global. Sementara anak muda kita masih sibuk dengan senja, kopi yang perlu
diulas, atau aku yang sementara di ambang pilu. Seolah situasi ini tidak relate dengan manusia. Sudahlah!
Lalu apa jalan yang mesti kita
tempuh?
Jika ingin jalan sunyi tinggal ubah gaya hidup yang selalu Anda lakoni: kurangi
belanja sampah dan jangan menghambur sembarangan sampah – saya tidak
menganjurkan gerakan primitivisme yang
menolak total peradaban itu. Tidak!
Bagaimana jalan ramai?
Pertama Anda perlu mencari tahu asal-usul krisis
ekologi. Yang paling sederhana, bahwa perubahan iklim diakibatkan ambisi
pembangunan peradaban kita yang keterlaluan, bisnis yang berorientasi bisnis,
sembarangan mengorbankan apa saja, termasuk lingkungan, termasuk jam istirahat
Anda. Artinya paket kebijakan politik dan ekonomi kita bermasalah sejak dalam
kepala. Mengutip Barry Commoner (ahli biologi), “Jika lingkungan tercemar dan
perekonomian sakit, virus penyebab keduanya akan kita temukan pada sistem
produksi.”
Lalu, kedua, kita perlu mendesak
pengambil kebijakan bahwa dunia sedang di ambang batas kewajaran. Dunia sedang
tidak betul. Bahwa kita butuh paket kebijakan yang ketat yang peduli akan masa
depan bumi. Sebuah paket kebijakan, dan pembangunan, dan ekonomi, dan
politik, dan gaya konsumsi yang ramah lingkungan.
SYSTEM CHANGE, NOT CLIMATE CHANGE!
November 2022
Fahmi Karim

Komentar
Posting Komentar