REKTOR DAN SAMPAH: SEBUAH TUNTUTAN
Oleh: Admin
________________________________________________________
Tulisan ini adalah ikhtiar MAPALA BUMI IAIN Manado dalam upaya mengurangi penggunaan sampah plastik di lingkungan kampus IAIN Manado. Usaha ini akan terus dilakukan dan telah menjadi isu utama MAPALA BUMI IAIN Manado, dengan terus mendorong aturan kampus, mengkampanyekan isu, serta terus membangun koalisi diet sampah plastik Sulawesi Utara. Ikhtiar ini dibuat sebagai tuntutan program kepada rektor baru IAIN Manado. Tuntutan ini akan terus dikawal.
Ada hantu yang berkeliaran di bumi. Hantu perubahan iklim!
Dalam salah satu wawancara melalui Euronews (Global Conversation) yang ditayangkan di YouTube, Yuval Harari (penulis buku Sapiens) mengatakan umat manusia sekarang menghadapi tiga ancaman eksistensial, yaitu perang nuklir (nuclear war), perubahan iklim (climate change), dan disrupsi teknologi (technological disruption), khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan bioteknologi. Itulah debat paling mutakhir yang mesti terus dipercakapkan secara berulang-kali dan diantisipasi oleh siapapun. Semua ancaman eksistensial di atas bisa diselesaikan jika kita mencoba bekerja sama, terutama di tingkat global.
Tanpa meminggirkan ancaman perang nuklir dan disrupsi teknologi, tulisan pendek ini hanya akan membahas krisis perubahan iklim. Khususnya mengenai sampah plastik dalam kaitannya dengan aktivitas dunia kampus.
Sampah plastik ikut melibatkan diri dalam mendorong terjadinya perubahan iklim. Utamanya yang berkaitan dengan kesehatan udara dan air. Sampah plastik dihasilkan oleh aktivitas produksi yang berlebihan, terutama barang fast moving consumer goods (FMCG) yang didukung oleh hasrat konsumeris dan keinginan praktis manusia yang sulit dibendung.
Produk plastik sekali pakai, karena praktis, digunakan untuk mendukung kampus dalam melaksanakan kegiatan. Aktivitas jualan di kantin dalam kampus ikut mendorong sampah plastik makin menjamur. Karena sampah plastik menjadi ancaman, dan dunia kampus mestinya ikut serta dalam proses mitigasi perubahan iklim, harusnya kampus mempunyai prosedur operasi standar (SOP) dalam setiap kegiatan, juga SOP untuk model jualan di kantin kampus.
Perubahan Iklim
Perubahan iklim ada di depan mata. Sebabnya mungkin sepele, efeknya besar. Ini berhubungan erat dengan migrasi populasi, kekeringan, tenggelamnya pulau-pulau pesisir, kepunahan satwa, atau bahkan mungkin habisnya homo sapiens. Jika masih begini terus pola hidup manusia, kita sedang mengaspal jalan lurus-mulus menuju apokalips.
Dalam Laporan Dampak Perubahan Iklim terhadap Migrasi (Oktober 2021) oleh White House Washington, memberi penjelasan tentang terjadinya gelombang massal pengungsi, atau apa yang sering disebut dengan istilah pengungsi iklim (climate refugees) diakibatkan cuaca ekstrim dan konflik.
Perubahan iklim memperburuk kelangkaan sumber daya alam. Ini dapat memantik konflik secara langsung dan mendorong migrasi populasi. Perpindahan penduduk secara massal dilakukan untuk mengamankan hidup di tempat lain karena perubahan iklim bersentuhan langsung dengan ketahanan pangan ekonomi. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) melaporkan bahwa rata-rata 21,5 juta orang mengungsi setiap tahun akibat bahaya cuaca yang datang tiba-tiba (antara 2008 dan 2016) serta ribuan orang lainnya mengungsi akibat perubahan iklim yang pelan-pelan datang.[1]
Sementara kita dituntut untuk menjadi warga negara bangsa (nasionalis), zaman bergerak menuntut kita untuk menjadi warga dunia (kosmopolit): mengantisipasi populasi manusia yang berpindah-pindah demi bertahan hidup dari krisis pangan dan krisis sumber daya alam.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah badan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus persoalan sains dan hubungannya dengan perubahan iklim, memberi laporan bahwa perubahan iklim akan berdampak ke berbagai wilayah, termasuk daerah pesisir dan lautan. Misalnya membawa curah hujan yang lebih tinggi. Daerah pesisir akan terus mengalami kenaikan permukaan laut sepanjang abad-21.[2] Dalam penelitian Harkins Hendro Prabowo dan Muhammad Salahudin (2016), mengenai potensi tenggelamnya pulau-pulau kecil, menyimpulkan bahwa “jika apa yang dikhawatirkan oleh IPCC terjadi (dengan kenaikan suhu bumi 2 derajat), dengan meningkatnya permukaan laut, maka sebanyak 83 pulau kecil terluar di Indonesia akan tenggelam.[3]
Perubahan iklim mengancam daerah hutan hujan sebagai penyangga cadangan makanan hewan, perubahan iklim juga mengancam satwa, utamanya satwa laut, yang berpotensi menimbulkan kepunahan massal akibat krisis iklim. Agar kita terhindar dari bencana iklim di atas, satu-satunya cara pencegahan adalah dengan menurunkan emisi gas rumah kaca dan kita harus kembali lagi ke Perjanjian Paris 2015.
Sampah Plastik
Bahan plastik memang tergolong murah-meriah. Namun jangankan murah, ada satu pepatah, “No Free Lunch”. Jika ada yang gratis, mungkin Anda yang sedang dijual!
Hari-hari kita bertemu dengan plastik. Segala rupa bahan menggunakan plastik. Kita pun menikmatinya sebagai suatu kepraktisan hidup. Kadang membantu kita memutar ekonomi secara cepat dan tidak perlu terlalu repot. Memang sulit dihindari pemakaian plastik, namun bukan berarti tidak mungkin dikurangi penggunaannya.
Plastik berbahaya tidak hanya karena mencemari udara dan lautan, atau berpartisipasi aktif dalam krisis iklim, namun proses penciptaannya melalui jalur ekstraksi dengan bahan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Jika terjadi bencana banjir dan gelombang pasang, sampah plastik akan cepat menyebar di lautan dan mengancam ekosistem laut.
Catatan dari World Population Review, yang dikutip dari Katadata, Indonesia menjadi peringkat ke lima sebagai penyumbang sampah plastik di laut mencapai 56 ribu ton pada 2021. Data dari Our World in Data mengatakan pada tahun 1950 dunia hanya menghasilkan 2 juta ton plastik per tahun. Sejak saat itu, produksi tahunan meningkat hampir 230 kali lipat, hingga mencapai 460 juta ton pada 2019. Plastik ini berakhir sebagai sampah polutan, terhampar di daratan dan lautan. Diperkirakan sampah plastik yang masuk ke lautan sekitar 3 %. Pada tahun 2010 jumlahnya sekitar 8 juta ton.[4]
Namun dalam penelitian di atas, dari sekian juta ton sampah plastik yang dilepaskan di laut, yang ditemukan di permukaan air laut justru lebih sedikit. Perbedaan ini sering disebut sebagai ‘masalah plastik yang hilang’. Kemungkinan karena pengukuran yang tidak tepat (kemungkinan kecil). Analisis lainnya mengatakan bahwa sinar ultra violet (UV) dan gaya gelombang mekanis memecah potongan besar plastik menjadi lebih kecil. Partikel kecil ini disebut sebagai mikroplastik. Partikel plastik yang lebih kecil jauh lebih mudah masuk ke dalam sedimen atau dicerna oleh organisme, seperti ikan. Ikan kita makan, plastiknya berlabuh di perut kita.
Polusi udara juga mengandung mikroplastik yang bisa masuk ke dalam pernapasan dan paru-paru. Ini akan mengganggu sistem pernapasan. Mikroplastik berbahaya bagi kesehatan manusia. Salah satunya memicu pertumbuhan tumor, menghambat sistem imun tubuh, dan mengganggu sistem reproduksi. Beberapa peneliti telah menemukan mikroplastik/nanoplastik di feses manusia juga tinja satwa liar yang dilindungi.
Kendati kita berhenti membuang sampah di tahun ini, tahun 2023, namun sisa-sisa sampah puluhan tahun lalu di darat maupun di lautan masih saja tetap ada. Plastik akan terurai sampai puluhan bahkan ratusan tahun tergantung jenis sampah plastik. Namun bukan berarti langkah berhenti membuang sampah itu sia-sia. Memitigasinya dengan cara daur ulang saja atau mengurangi pemakaian bahan plastik bisa punya guna nantinya kepada kelangsungan hidup semua.
Jika sudah demikian terancamnya kesehatan dan masa depan bumi, mestinya hal-hal kecil perlu dilakukan untuk mengantisipasi agar hal-hal besar tidak perlu terjadi. Kita bisa lakukan “mitigasi” dan “adaptasi”. Mitigasi yang boleh dibuat di wilayah kampus IAIN Manado misalnya dengan mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai, seperti plastik kresek, sedotan pastik, dan botol/gelas plastik sekali pakai.
Namun, mitigasi ini tidak cuma usaha untuk mendorong setiap orang agar sadar lingkungan. Artinya, terus-menerus melakukan sosialisasi tanpa melakukan mitigasi di skala sistem. Mustahil saja orang yang sering bergulat di dunia pengetahuan dan isu publik seperti warga kampus lalu tidak paham dan sadar tentang perubahan iklim. Ini konyol! Tapi, paham akan sesuatu belum tentu melakukannya. Jadi mitigasi perlu dibuat di skala aturan kampus. Misalnya pembuatan SOP kegiatan kampus dan SOP jualan di kantin.
Kegiatan kampus, baik rapat-rapat, sosialisasi, ujian mahasiswa, kegiatan mahasiswa di tingkat dewan mahasiswa, selalu dalam tradisi konsumsi yang melibatkan sampah plastik. Di sini kita melihat pemandangan akademisi/mahasiswa yang seolah tidak sadar lingkungan dengan terus mengunakan plastik yang nantinya akan jadi sampah. Hal ini tetap dilakukan karena tidak ada standar kegiatan yang berwawasan keberlanjutan. Begitu juga kantin yang masih menggunakan produk plastik.
Yang perlu dilakukan adalah, dan sekaligus ini tuntutan, membuat SOP:
- Setiap kegiatan formal kampus yang dilakukan oleh dosen, pegawai, mahasiswa (Dema, Sema, Ormawa), dll., seperti rapat, ujian, perjalanan dinas, kegiatan mahasiswa, pengkaderan mahasiswa, seminar, sosialisasi, dll., tidak boleh melibatkan sampah plastik sekali pakai, seperti kantong plastik kresek, sedotan plastik, botol/gelas plastik sekali pakai.
- Setiap kantin yang berjualan di kampus IAIN Manado tidak boleh mengikutsertakan produk sampah plastik sekali pakai, misalnya kantong plastik kresek, sedotan plastik, gelas plastik sekali pakai.
Klimaks
Winter is Coming! Moto House Stark dalam serial televisi Game of Thrones (GoT). Frasa ini ada dalam metafora “selalu siaga”. Mungkin istilah itu adalah cara terbagus yang bisa saya pakai untuk mengakhiri tulisan ini.
Musim dingin bisa datang kapan saja di The Seven Kingdoms of Westeros. Winter is coming tidak selalu tentang musim dingin. Di Season 8 Episode 3 GoT (Long Night), kita dihidangkan pertempuran epik antara geng manusia, Jon Snow dkk. serta Daenerys Targaryen beserta naga dan geng Dothraki, melawan geng Night King (White Walker) dan zombi-zombi brutal. Geng manusia secara sementara berhenti dan membuang ego untuk bicara Tahta Besi, The Iron Throne, Kings’s Landing. Aliansi adalah cara terbaik untuk melawan kematian. Sendiri-sendiri akan habis sampai jadi debu.
Akhirnya, setelah mereka memenangkan pertarungan tidak wajar itu, barulah pelan-pelan tahta King’s Landing dikepung untuk melakukan pembaruan! Tapi di babak akhir film, Tahta Besi justru dibakar oleh naga, supaya tidak lagi terjadi pertempuran panjang hasrat yang rusak.
SALAM LESTARI!!!
VIVA BUMI!!!
________________
DAFTAR SUMBER
[1] White House Washington, Report on the Impact of Climate Change on Migration, (Oktober, 2021)
[2] http://www.ipcc.ch/2021/08/09/ar6-wg1-20210809-pr/, diakses pada 16/6/2023
[3]Harkins Hendro Prabowo dan Muhammad Salahudin, “Potensi Tenggelamnya Pulau-Pulau Kecil Terluar Wilayah NKRI”, Jurnal Geologi Kelautan, Vol-4 No. 2 (November, 2016), 115.
[4] http://ourworldindata.org/plastic-pollution, diakses pada 15/6/ 2023



Komentar
Posting Komentar