KALASEY DUA DAN PARIWISATA
![]() |
| Posko Solidaritas Petani Penggarap Kalasey Dua |
Oleh: Fahmi Karim
Dalam setiap konflik tanah, misalnya perampasan tanah (land-grabbing), selalu
saja sengketa kepentingan berserakan. Jadi, membaca peta motif di balik
sengketa tanah (rakyat vs pemerintah/investor) adalah penting agar kita
mendapatkan pemahaman kenapa selama ini pemerintah/investor selalu ngotot akan tanah-tanah yang dikelola
oleh rakyat.
Konflik tanah tidak hanya soal historisitas; antara siapa
yang sah memiliki atau siapa yang tidak sah memiliki. Tidak hanya itu! Apalagi
di negara yang seperti Negara Lobby,
semuanya bisa ditawar oleh yang punya uang dan yang punya akses ke kekuasaan.
Jadi, sejarah juga bisa tidak objektif, apalagi berkaitan dengan proyek bisnis.
Misalnya konflik tanah Kalasey Dua, Minahasa, Sulawesi
Utara (Sulut). Konflik itu tidak hanya melibatkan sejarah tanah – sekali lagi,
sejarah bisa dimiringkan oleh siapa yang punya akses ke kekuasaan. Konflik
tanah di Kalasey Dua pertama dan paling utama harus kita baca dari watak
kepentingan proyek pembangunan di balik itu. Lalu watak pembangunan itu harus
juga kita cari dalilnya di paradigma ekonomi-politik, terutama yang berkaitan
dengan neoliberalisme. Lalu, setelah itu, kita juga harus membaca konflik lahan
itu dengan melihat kepentingan politik sementara oleh kekuasaan lokal dan
kekuasaan nasional. Setelah itu kita lihat, bisnis apa yang menjadi parasit di
proyek setelah perampasan tanah itu.
Jadi, saya mau mengatakan, tanah tidak hanya soal surat. Di
balik itu ada rancangan tata ruang yang melibatkan imajinasi ruang-ruang
rekayasa, ada nalar ekonomi-politik sebagai pesanan World Bank atau IMF, atau
G20. Ada juga citra-citra kekuasaan lokal yang coba dibangun, ada juga bisnis
yang menempel di situ, para oligark rakus, pemburu rente. Dan kesemuanya itulah
yang dihadapi rakyat dalam konflik tanah.
Untuk memberikan kesempatan di bagian lain, dalam bagian
tulisan ini saya hanya akan fokus soal tanah petani Kalasey Dua dan kaitannya
dengan projek pariwisata; suatu upaya untuk normalisasi logika ekonomi “menetes
ke bawah”.
Kenapa Pariwisata?
Karena tanah petani Kalasey Dua dihibahkan kepada Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia oleh
Pemerintah Provinsi, melalui SK Hibah Gubernur Sulawesi Utara, seluas 20 Ha. Tanah
itu adalah wilayah perkebunan juga bagian dari wilayah pemukiman warga Kalasey Dua.
Rencananya tanah yang dihibahkan itu akan dibuat kampus Politeknik Pariwisata
(Poltekpar).
Tentu, karena berkaitan dengan tanah sebagai sumber kehidupan
dan penyangga ekonomi secara langsung, petani Kalasey Dua memberikan
perlawanan, dengan cara menggalang solidaritas. Protes ini ditunjukkan kepada
Pemerintah Provinsi karena berusaha mengorbankan ekonomi dan lingkungan hidup petani
demi pembangunan infrastruktur, yang entah bisa memberi efek atau tidak;
artinya kemanusiaan tidak punya harga di hadapan surat-surat dan proyek
infrastruktur.
Titik singgung ini pasti melibatkan polisi, karena polisi
sebagai pengaman. Buktinya apa? Pertama, sejarah
represi pihak kepolisian selama ini. Kedua,
Presiden Jokowi menghimbau agar Polri juga mengawal pembangunan.
Pariwisata adalah bisnis besar Indonesia. Pariwisata memberikan
banyak kemungkinan, terutama ekonomi, menurut pemerintah. Pariwisata merupakan
program unggulan negara. Maka dari itu, pemerintah, melalui Kemenparekraf, membuat
pengutamaan pengembangan Destinasi Super Prioritas, yang terdiri dari Candi
Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Danau Toba, dan Likupang.
Anda bisa baca beberapa konflik domino yang dihasilkan dari
projek pariwisata super prioritas ini. Misalnya persinggungan antara kepemilikan
lahan, atau privatisasi lahan, atau ancaman ekonomi warga sekitar.
Dengan dana yang besar, Likupang, Minahasa Utara (Minut),
akan dibuat sebagai wilayah wisata paling prioritas di Sulut. Wilayah ini
mesti didandan sebagus mungkin agar dapat menarik wisata asing dan memberikan
pemasukan ekonomi pada negara. Lalu, kata pemerintah, akan menetes ke
masyarakat.
Imajinasi ekonomi pariwisata ini yang terus ditanamkan pada
masyarakat dekat zona Destinasi Super Prioritas. Pemerintah melalui iklan,
melalui kebijakan, terus memasarkan ide-ide ekonomi wisata, bahwa wisata itu
bagus untuk satu wilayah karena akan mendorong ekonomi warga sekitar. Lalu,
ketika ada yang memprotes proyek pariwisata akan dikatakan anti-pembangunan, anti-
investasi, atau anti-kemajuan. Padahal tugas kita adalah terus menguji klaim efek
ekonomi pariwisata tersebut, khususnya yang berkaitan dengan kedaulatan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan warga sekitar.
Dari projek strategi negara ini, Destinasi Super Prioritas, tentunya
membutuhkan dukungan. Dukungan ini berupa pembangunan infrastruktur dan pembangunan
sumber daya manusia. Jadi, segala yang berkaitan dengan pembangunan di Sulut,
atau Kabupten Minut, harus ikut memuat agenda pengembangan Destinasi Super
Prioritas.
Pembangunan infrastruktur sudah bisa kita saksikan di dekat
zona Minut. Apalagi wilayah ini termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Gejalanya
apa? Lihat saja jalan-jalan. Atau lihat saja hotel-hotel yang tumbuh di dekat
pantai Likupang. Atau komodifikasi/privatisasi pantai Minut.
Dalam membangun sumber daya manusia salah satu penopangnya
adalah kampus yang berbasis pariwisata. Dan di sini kita bisa lihat apa
kepentingan pelepasan lahan di Kalasey Dua dengan membangun Poltekpar: untuk
menopang projek pengembangan Destinasi Super Prioritas Likupang, untuk menopang
program nasional. Jadi, yang masyarakat hadapi tidak hanya kekuasaan lokal,
namun nasional.
Ekonomi yang
“Menetes Ke Bawah”
Pemerintah menaruh harapan pada masa depan dengan
mengorbankan masa kini. Itulah kuncinya: pembangunan Poltekpar untuk membuka
peluang ekonomi ke depan, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul
untuk mendukung program pariwisata di Likupang.
Jadi dalil yang selalu digunakan oleh pemerintah bahwa setiap
pembangunan tanpa disadari akan memberikan efek ekonomi pada masyarakat;
keuntungan akan “menetes ke bawah”. Tidak terkecuali pembangunan kampus dan pembangunan
pariwisata Likupang.
Lalu bagaimana masyarakat yang tergeser dari tanahnya karena
program penyangga pariwisata? Nantinya akan jadi tuan atau jadi buruh? Dalil pembangunan
untuk membuat keuntungan ekonomi di masa depan seketika langsung
kontraproduktif ketika warga justru kehilangan sumber-sumber ekonominya. Dan,
kita bukan curiga, bahwa teori menetes ke bawah (trickle down effect) sudah lama dikritik oleh bahkan penganjurnya. Ekonomi
yang dihasilkan justru tidak menetes ke bawah, namun menetes ke meja-meja
parasit bisnis plus oligark pemburu rente.
Dari semua itu, yang tersisa hanyalah ketidakpercayaan dan perlawanan!

Komentar
Posting Komentar