DILEMA LINGKUNGAN
![]() |
| Sumber: Pinterest |
Dalam upaya pembelaan Pinker terhadap Pencerahan (dan ini inti
dari proyek bukunya: membela Pencerahan), baginya kita tidak bisa menutup mata
efek Pencerahan: penawar penyakit, kemajuan teknologi untuk memudahkan manusia,
dan lain-lain. Dan faktanya, baginya, makin ke sini manusia mulai berupaya
untuk menekan kerusakan lingkungan dengan menggunakan ide-ide berkelanjutan: kawin-silang antara
pembangunanisme/teknologisasi dan “hijauisme” yang melahirkan ekomodernisme
dengan nama-nama seperti dematerialisasi
(upaya teknologi untuk melakukan lebih banyak dengan cara yang lebih sedikit) dan
dekarbonisasi (kesadaran akan efek
rumah kaca).
Poinnya, bagi Pinker, kita tidak perlu khawatir dengan
kemajuan teknologi dan sains karena di tahap tertentu dengan keduanya kita bisa
memperpanjang usia bumi. Seperti upaya yang terus dilakukan sekarang.
Di sini tidak akan masuk dalam debat sepakat atau tidak pendapat
Pinker. Bahwa faktanya pembangunanisme justru yang memakan ruang-ruang hijau
dengan teknologinya, bahwa nama dari sustainable
development hanyalah istilah yang berisi kontradiksi; pembangunanlah yang
membuat keserasian alam tidak lanjut. Namun, fakta juga bahwa kita menggunakan
sains untuk memprotes semua kerusakan ini, bahwa ibu kita bisa melahirkan
dengan selamat, atau mengangkat penyakit dalam tubuh, adalah dengan sains dan
teknologi.
Kita hidup dalam masyarakat
risiko. Tidak ada yang tidak luput dari konsekuensi. Kita meninggalkan
kemegahan hidup sekarang dan kembali ke situasi lampau (primitivisme) punya
konsekuensi, misalnya kecepatan komunikasi atau diagnosa penyakit. Begitu juga
jika kita terus membiarkan laju industrialisasi dan teknologisasi. Kita
menggunakan kendaraan punya konsekuensi. Tidak menggunakan kendaraan juga punya
konsekuensi.
Kita menghadapi persoalan yang rumit: populasi manusia yang
terus meningkat. Peningkatan populasi ini berarti kita bicara ketersediaan
tenaga kerja, ketersediaan tempat tinggal, ketersediaan jaminan hidup, artinya
kita bicara bagaimana model pembangunan, ekonomi, dan politik bisa menunjang
populasi manusia yang makin banyak ini.
Dari dulu ekonom seperti Malthus sudah mengingatkan bahwa
alam tidak mampu menanggung beban populasi manusia yang bertambah. Alam terbatas.
Manusia semakin banyak, maka semakin banyak pula keinginan yang perlu ditopang
oleh alam.
Jadi, pertanyaannya bagaimana mendorong ketersediaan lapangan
kerja, jaminan hidup bagi semua orang (artinya pendapatan negara mesti
ditambah) dengan sekalian itu juga memikirkan kerusakan lingkungan?
Inilah dilema yang diulang-ulang pemerintah.
Kritik kita adalah menggunakan alam secukupnya kebutuhan kita
saja, tidak menggunakan alam untuk akumulasi kapital.
Oktober 2022
Fahmi Karim

Komentar
Posting Komentar