DILEMA LINGKUNGAN

Sumber: Pinterest


“Gerakan lingkungan tumbuh dari pengetahuan ilmiah (dari ekologi, kesehatan masyarakat, sains bumi, dan sains atmosfer),” tulis Steven Pinker dalam Enlightenment Now. Bab tentang lingkungan dibahas khusus oleh Pinker. Pembahasan ini adalah upaya Pinker untuk merespon pesimisme pada ide-ide dan produk-produk Pencerahan. Bagi kaum pesimis (pesimisme menurut Pinker), ide Pencerahan yang mesti dimintai tanggungjawab ketika kita bicara kerusakan lingkungan.

Dalam upaya pembelaan Pinker terhadap Pencerahan (dan ini inti dari proyek bukunya: membela Pencerahan), baginya kita tidak bisa menutup mata efek Pencerahan: penawar penyakit, kemajuan teknologi untuk memudahkan manusia, dan lain-lain. Dan faktanya, baginya, makin ke sini manusia mulai berupaya untuk menekan kerusakan lingkungan dengan menggunakan ide-ide berkelanjutan: kawin-silang antara pembangunanisme/teknologisasi dan “hijauisme” yang melahirkan ekomodernisme dengan nama-nama seperti dematerialisasi (upaya teknologi untuk melakukan lebih banyak dengan cara yang lebih sedikit) dan dekarbonisasi (kesadaran akan efek rumah kaca).

Poinnya, bagi Pinker, kita tidak perlu khawatir dengan kemajuan teknologi dan sains karena di tahap tertentu dengan keduanya kita bisa memperpanjang usia bumi. Seperti upaya yang terus dilakukan sekarang.

Di sini tidak akan masuk dalam debat sepakat atau tidak pendapat Pinker. Bahwa faktanya pembangunanisme justru yang memakan ruang-ruang hijau dengan teknologinya, bahwa nama dari sustainable development hanyalah istilah yang berisi kontradiksi; pembangunanlah yang membuat keserasian alam tidak lanjut. Namun, fakta juga bahwa kita menggunakan sains untuk memprotes semua kerusakan ini, bahwa ibu kita bisa melahirkan dengan selamat, atau mengangkat penyakit dalam tubuh, adalah dengan sains dan teknologi.

Kita hidup dalam masyarakat risiko. Tidak ada yang tidak luput dari konsekuensi. Kita meninggalkan kemegahan hidup sekarang dan kembali ke situasi lampau (primitivisme) punya konsekuensi, misalnya kecepatan komunikasi atau diagnosa penyakit. Begitu juga jika kita terus membiarkan laju industrialisasi dan teknologisasi. Kita menggunakan kendaraan punya konsekuensi. Tidak menggunakan kendaraan juga punya konsekuensi.

Kita menghadapi persoalan yang rumit: populasi manusia yang terus meningkat. Peningkatan populasi ini berarti kita bicara ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan tempat tinggal, ketersediaan jaminan hidup, artinya kita bicara bagaimana model pembangunan, ekonomi, dan politik bisa menunjang populasi manusia yang makin banyak ini.

Dari dulu ekonom seperti Malthus sudah mengingatkan bahwa alam tidak mampu menanggung beban populasi manusia yang bertambah. Alam terbatas. Manusia semakin banyak, maka semakin banyak pula keinginan yang perlu ditopang oleh alam.

Jadi, pertanyaannya bagaimana mendorong ketersediaan lapangan kerja, jaminan hidup bagi semua orang (artinya pendapatan negara mesti ditambah) dengan sekalian itu juga memikirkan kerusakan lingkungan?

Inilah dilema yang diulang-ulang pemerintah.

Kritik kita adalah menggunakan alam secukupnya kebutuhan kita saja, tidak menggunakan alam untuk akumulasi kapital.

 


Oktober 2022

Fahmi Karim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DUNIA SEDANG DI AMBANG BATAS

REKTOR DAN SAMPAH: SEBUAH TUNTUTAN

KALASEY DUA DAN PARIWISATA